Manajemen Desa Wisata “Monitoring dan Evaluasi”

Monitoring merupakan suatu kegiatan mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan. Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi merupakan merupakan kegiatan yang menilai hasil yang diperoleh selama kegiatan pemantauan berlangsung. Lebih dari itu, evaluasi juga menilai hasil atau produk yang telah dihasilkan dari suatu rangkaian program sebagai dasar mengambil keputusan tentang tingkat keberhasilan yang telah dicapai dan tindakan selanjutnya yang diperlukan.

Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan pada atraksi wisata. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga perkembangan atraksi wisata, agar selalu dikunjungi oleh wisatawan. monitoring dilakukan untuk selalu mengawasi secara seksama kondisi atraksi wisata. Evaluasi dilakukan berdasarkan hasil dari monitoring yang telah dilakukan. Apabila terjadi masalah dapat cepat diselesaikan. Apabila ada keluhan wisatawan atupun hal-hal lain dapat diselesaikan dengan cara evaluasi. Berikut ini merupakan contoh perencanaan monitoring dan evaluasi terhadap atraksi wisata :

deswis eval (2)

Nama anggota kelompok :

  1. Achmad Setiawan
  2. Ajeng Nur
  3. Akyunia Labiba
  4. Ahmad Soffan Ridho
  5. Dewi Rahmawati
  6. Fitri Anasari
  7. Nadya Putri

Batik Sembung, Lendah, Khas Kulon Progo

20180304_105109

Batik merupakan kain tradisional Indonesia yang patut di lestarikan, Kulon Progo merupakan sebuah kabupaten yang terkenal dengan produksi batiknya, Batik sembung misalnya, Batik sembung yang berada di Kulon Progo memproduksi Batik khas Kulon Progo dengan berbagai motif yang menarik dan menjadi ciri khas yang membedakannya dari kain batik yang lain misalnya batik dengan motif Geblek Renteng, Batik ini mempunyai motif dengan angka 8 sebagai ciri khas dari kain batiknya dengan berbagai warna yang cantik.

Batik Sembung merupakan batik yang diproduksi oleh masyarakat lokal desa sembung, beberapa masyarakat desa batik sembung mempunyai keahlian dapat membuat batik khas kulon progo ini dirumah mereka masing-masing, dengan keahlian yang dimiliki masyarakat batik sembung dapat membuat pesanan para pembeli dengan waktu yang singkat dengan kualitas yang terjamin.

Batik sembung memproduksi batik dengan kualitas yang dapat terpercaya dengan baik, untuk harga setiap batiknya cukup bervariasi namun tetap terjangkau, Batik Kulon Progo ini juga sudah banyak mengexplore produksi batiknya ke berbagai penjuru dunia baik di dalam maupun luar negeri. Biasanya wisatawan memesan batik sembung dalam jumlah yang banyak dan akan dibuat sebagai pakaian seragam. Banyak wisatawan yang ingin belajar proses pembuatan batik sembung ini, pengelola batik sembung juga membuat paket wisata kreatif bagi wisatawan yang ingin belajar lebih dalam tentang proses pembuatan batik khas kulon progo, namun apabila ingin memesan paket wisata kreatif ada baiknya kita mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada pihak pengelola.

Kontak yang bisa di hubungi:

Wa batik sembung : 085743690588

Ig : sembung_batik

Trip to Desa Wisata Ngringinan

Pada hari Sabtu lalu, tepatnya 10 Maret 2018 saya dan teman-teman program studi D3 Kepariwisataan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melakukan perjalanan kuliah lapangan ke Desa wisata Ngringinan. Desa wisata Ngringinan terletak di Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pagi hari pukul 06.45 saya dan teman-teman saya berkumpul di Koperasi Kopma UGM (depan Sekolah Vokasi UGM) sebelum berangkat ke Desa wisata Ngringinan. Setelah semua teman-teman berkumpul disana, tepat pukul 07.00 kami semua berangkat ke Desa wisata Ngringinan mengendarai sepeda motor. Jarak antara Sekolah Vokasi titik kumpul keberangkatan kami dan Desa wisata Ngringinan kurang lebih 21 Km, dan lama perjalanan sekitar 45 menit apabila ditempuh dengan kendaraan mobil atau sepeda motor.

Kami tiba di Desa wisata Ngringinan pukul 07.45, saat masuk ke desa ini terlihat hamparan sawah hijau yang luas yang menyejukkan mata, rumah rumah sederhana ala pedesaan serta aktivitas warga desa yang damai juga terlihat disini.

Setelah kami sampai di desa Ngringinan saya dan teman-teman langsung mencari rumah kediaman Bapak Widu Kuntoro yang juga sekaligus menjadi museum Belanda. Bapak Widu Kuntoro atau yang biasa dipanggil Pak Kun merupakan salah satu pengelola Desa wisata Ngringinan. Sampai disana, beliau mempersilahkan saya dan seluruh teman-teman masuk kedalam rumahnya, kami diberi pengantar dan penjelasan sedikit mengenai desa wisata Ngrnginan oleh Pak Kun.

Desa wisata Ngringinan merupakan desa wisata yang terbilang baru, karena baru saja dibuka. Tadinya desa Ngringinan ini seperti desa pada umumnya, namun beberapa waktu terakhir beberapa warga desa mulai mengelola desa ini menjadi desa wisata. Walaupun terbilang sebagai desa wisata baru, namun desa wisata ini sudah dikunjungi oleh beberapa wisatawan domestik maupun manca negara yaitu dari Afganistan, dan beberapa negara lain. Desa wisata Ngringinan ini cukup unik karena desa ini memiliki beberapa peninggalan Belanda berupa bangunan dan benda. Bangunan peninggalan Belanda yang sampe saat ini masih berdiri di desa ini yaitu Rumah Sakit ST. Elisabeth dan Gereja HKTY Ganjuran.

Wisatawan yang datang ke desa wisata ini kebanyakan adalah para peziarah yang mayoritas datang dari daerah Jakarta, Bogor, dan Semarang. Desa wisata ini juga sering dikunjungi oleh sekolah-sekolah dan universitas sebagai kuliah lapangan dan wisata edukasi. Beberapa universitas yang pernah datang ke desa wisata ini antara lain adalah dari Atmajaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Unida, bahkan dari mancanegara yaitu Osaka University.

Yang paling menarik para wisatawan dari Desa wisata Ngringinan ini adalah Komplek Gereja HKTY  Ganjuran. Komplek ini terdapat beberapa gereja, serambi, taman, pendopo, dan yang paling menarik adalah terdapat candi sebagai salah satu bukti akulturasi budaya antara agama hindu dan katolik. Konon, gereja ini merupakan bangunan tua salah satu peninggalan Belanda. Di komplek gereja ini sering ada acara rutin yang menarik para wisatawan terutama para peziarah untuk berkunjung seperti sembayangan misa pada bulan Juni yang dihadiri sekitar 2000 orang, perebutan tumpeng yang diikuti sekitar 10.000 orang, dan lain-lain.

Desa wisata Ngringinan ini tidak hanya menawarkan wisata ziarah saja, akan tetapi ada paket wisata lainnya seperti cooking class dan outbound. Apabila anda memilih cooking class, anda akan diajari memasak makanan khas desa Ngringinan yaitu Madumongso. Madumongso adalah makanan snack tradisional yang terbuat dari tape ketan yang dimasak dengan cara dikukus dan ditambahkan gula, santan, daun pandan, yang diaduk-aduk hingga mengental kemudian di cetak lalu setelah dingin dibungkus menggunakan kertas minyak berukuran kecil.

Untuk anda yang tertarik mengunjungi desa wisata Ngringinan dan berniat untuk menginap, jangan khawatir karena Desa wisata Ngringinan ini menyediakan akomodasi homestay bermalam di rumah warga desa. Ada sekitar 25 rumah warga yang dapat digunakan para wisatawan untuk menginap. Lagi-lagi ada hal menarik di desa wisata ini, walaupun para wisatawan yang datang ke desa Ngringinan adalah para peziarah non muslim, akan tetapi warga desa yang menyediakan akomodasi homestay dan penyedia fasilitas lainnya seperti parkir dan warung makan disini mayoritas beragama Islam dan tetap damai hidup berdampingan. Disini, anda tidak hanya belajar tentang budaya atau sejarah peninggalan Belanda saja, akan tetapi juga belajar tentang rasa saling menghormati antar umat beragama dan rasa toleransi yang tinggi antar manusia.

RURAL TOURISM AND RECREATION

Tabel 1.2 Ringkasan dampak pariwisata dan rekreasi di daerah pedesaan

Kegiatan pariwisata dan rekereasi di daerah desa atau pedalaman tentu memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi masyarakat serta lingkungan, baik dampak dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Dampak dari adanya kegiatan pariwisata di daerah pedesaan seperti dua ujung tombak yang memiliki dampak positif serta negatif, berikut adalah dampak positif/negatif dari adanya kegiatan pariwisata di daerah pedasaan atau pedalaman, antara lain adalah :

  1. Dampak Positif Pariwisata dan Rekreasi di Pedesaan
  • Dampak positif Sosial – Ekonomi
  1. Menyediakan sumber pendapatan baru, alternatif atau tambahan dan pekerjaan
  2. Membantu mengurangi ketidakseimbangan kekuatan gender dan ketidakseimbangan sosial lainnya
  3. Mendorong kegiatan komunitas kolektif
  4. Memberikan kesempatan untuk mempertahankan populasi di daerah yang mungkin mengalami depopulasi
  5. Memungkinkan daerah untuk diisi ulang
  6. Efek multiplier secara keseluruhan, walaupun di daerah pedesaan ini cenderung lebih rendah
  • Dampak positif Budaya
  1. Menguatkan kembali budaya lokal
  2. Menciptakan harga diri dan identitas diri
  • Dampak positif Fisik : buatan dan alami
  1. Kontribusi konservasi dan perlindungan
  2. Membantu perbaikan dan penggunaan kembali properti terbengkalai

2. Dampak Negatif Pariwisata dan Rekreasi di Pedesaan

  • Dampak negatif Sosial – Ekonomi
  1. Kebocoran ekonomi
  2. Inflasi harga lokal
  3. Tenaga kerja dalam migrasi
  4. Mendistorsi struktur ketenagakerjaan lokal
  5. Mendistorsi pasar perumahan lokal
  6. Memperkuat persepsi pekerjaan perempuan sebagai gaji rendah dan paruh waktu dan perpanjangan ‘peran dalam rumah tangga’
  7. Kompleks mandiri dengan jaringan yang lemah terhadap ekonomi lokal
  8. Pola permintaan musiman
  • Dampak negatif Budaya
  1. Memproduksi atau mendistorsi ‘budaya’ lokal untuk komoditi dan keaslian bertahap
  2. Hancurkan budaya asli
  • Dampak negatif Fisik : buatan dan alami
  1. Kerusakan habitat
  2. Mengotori, emisi dan bentuk polusi lainnya
  3. Kemacetan
  4. Pembangunan baru, mungkin dicangkokkan ke permukiman yang ada

Rural Tourism and Recreation

Tabel 1.1 Kumpulan Aktivitas Kepariwisataan dan Rekreasi di Daerah Pedesaan

Aktifitas kepariwisataan dan rekreasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh para wisatawan saat sedang berlibur ke suatu destinasi wisata.  Aktifitas kepariwisataan dan rekreasi sangatlah beragam, tergantung dari tempat yang dikunjungi. Menurut jumlah wisatawan, aktifitas rekreasi bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok, dan bisa dimulai dengan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana hingga kegiatan yang menantang adrenaline. Ada beberapa tempat pilihan untuk melakukan aktifitas kepariwisataan dan rekreasi yaitu tempat rekreasi alam, buatan, ada yang di perkotaan, maupun di pedesaan.

Pada blog kali ini, akan membahas tentang macam-macam kumpulan aktifitas kepariwisataan dan rekreasi yang ada dan dapat dilakukan di daerah pedesaan, antara lain adalah :

  1. Perjalanan
  • Mendaki (jalan setapak, jalur kebugaran, taman alam)
  • Berkuda
  • Tur di kafilah gipsi, gerobak
  • Bermotor touring (trail riding, all-terrain vehicles, otomotif)
  • Tur kota / desa kecil
  • Bersepeda Artistik
  • Berkuda
  • Ski lintas negara
  1. Aktivitas terkait air
  • Penangkapan ikan
  • Renang
  • Wisata sungai / kanal (rumah perahu, kapal sempit, tongkang)
  • Perahu kano, kayak dan arung jeram
  • Selancar angin
  • Balap speedboat
  • Pelayaran
  • Fasilitas ‘aqualand’
  1. Kegiatan udara
  • Pesawat ringan
  • Pesawat layang dan pesawat ringan mikro
  • Balon udara panas
  1. Kegiatan olah raga
  • Membutuhkan pengaturan alam:
  • Potholing
  • Panjat tebing
  • Orienteering

Membutuhkan pengaturan yang dimodifikasi / dibangun:

  • Tenis
  • Golf
  • Intensitas rendah ski lereng
  • Berburu
  1. Kegiatan budaya
  • Arkeologi
  • Situs restorasi
  • Studi warisan pedesaan
  • Perusahaan industri, pertanian atau kerajinan lokal
  • Museum
  • Kursus kerajinan
  • Bengkel artistik
  • Kelompok rakyat
  • Rute budaya, gastronomi dan lainnya
  1. Kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan
  • Pelatihan kebugaran
  • Kursus penyerangan
  • Spa dan resor kesehatan
  1. Aktivitas pasif
  • Liburan relaksasi di lingkungan pedesaan
  • Studi alam di setting outdoor, termasuk birdwatching, photography
  • Apresiasi lanskap
  1. Acara ‘Hallmark’
  • Festival olahraga pedesaan
  • Acara pertanian
  1. Hubungan bisnis
  • Konvensi / konferensi berskala kecil
  • Pariwisata insentif pendek-istirahat

Desa Wisata Ubud, Gianyar, Bali

Hasil gambar untuk desa wisata ubud gianyar bali

Desa wisata saat ini menjadi salah satu destinasi yang diminati oleh para wisatawan. Hal ini membuat munculnya banyak desa – desa yang diubah menjadi desa wisata. Kemunculan desa wisata tersebut telah hampir tersebar di seluruh Indonesia, baik dari daerah dengan sektor utamanya adalah pariwisata seperti Bali, hingga daerah pelosok sekalipun. Salah satu desa wisata di Bali yang sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara dan wisatawan Indonesia adalah desa wisata Ubud, Gianyar, Bali. Desa wisata Ubud merupakan tempat wisata di pulau Bali yang sudah terkenal semejak tahun 1930-an.

Desa wisata Ubud, Gianyar, Bali beberapa waktu terakhir ini juga dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh desa wisata terbaik di Indonesia. Penghargaan ini tentu menjadi hal yang sangat pantas didapatkan oleh desa wisata Ubud, Gianyar karena sangat sesuai dengan keindahan yang ada disana.

Beberapa hal atau alasan yang membuat desa Ubud, Gianyar menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia adalah :

  1. Kondisi geografis alamnya

Desa wisata Ubud, Gianyar, Bali, memiliki lokasi yang terletak di antara areal persawahan berbukit yang sejuk, kawasan hutan yang lebat dan hijau, serta diapit oleh jurang dengan sungai yang indah. Lokasi yang masih alami inilah yang menjadi daya tarik utama desa wisata Ubud.

  1. Budaya yang sangat kental

Selain karena kondisi alam, Ubud juga terkenal karena kesenian dan budaya Bali. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lokal Ubud tidak lepas dari unsur seni dan budaya. Selain itu masyarakat lokal Ubud sangat artistik dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai seniman, antara lain seniman lukis, seniman kerajinan tangan, seniman ukir, seniman patung, seniman tari, maupun musik tradisional. Oleh sebab itu, sebagian besar di pinggir jalan kawasan wisata di Ubud banyak terdapat museum dan toko yang menjual kerajinan seniman lokal.

Obyek Wisata Ubud Bali

Desa wisata Ubud, Gianyar, Bali memang sangat terkenal dengan seni dan budaya bali yang kental, sehingga desa ini tidak hanya dikunjungi para wisatawan untuk menikmati keindahan alam dan budayanya saja, akan tetapi banyak orang yang datang kesini untuk belajar kesenian yang ada di desa Ubud, Gianyar, Bali ini.

Desa wisata Ubud tidak hanya sebagai destinasi wisata, namun Ubud juga mampu menyelaraskan wirausaha UKM dan mengembangkan desanya sebagai upaya untuk menarik wisatawan. Desa Wisata ini bisa berfungsi ganda yaitu sebagai amenitas dengan homestaynya (akomodasi di rumah penduduk yang sudah sadar wisata), juga sekaligus sebagai atraksi, karena berada dalam atmosfer kehidupan masyarakat desa yang hommy dan nuansa kekeluargaan, serta kaya dengan sentuhan budaya yang belum tentu bisa ditemukan di negara lain.

Hal lain yang sangat menarik dari desa wisata Ubud yaitu, Desa Wisata kawasan Ubud, Gianyar, Bali menjadi percontohan bagi pengembangan desa wisata di Tanah Air.

 

Sumber Gambar :

http://www.katakansaja.com/2017/01/desa-wisata-ubud-bali.html

https://www.rentalmobilbali.net/wisata-ubud-bali/

Anggota Kelompok :

  1. Dewi Rahmawati
  2. Dwi Ajeng Ramadhanti
  3. Fadhilah Ryan Yoga
  4. Fadil Maulana Yoga

Community Based Tourism (CBT) – Prinsip dan Pengertian

Globalisasi adalah era modernisasi yang menyebabkan perubahan yang cukup signifikan diberbagai aspek dalam kehidupan, baik teknologi, ekonomi, sosial, budaya, dan masih banyak lagi. Salah satu aspek yang dipengaruhi oleh globalisasi ialah aspek dibidang pariwisata. Globalisasi telah membuat adanya pergeseran fungsi kota dari pusat produksi menjadi pusat konsumsi, yang ditandai dengan perubahan pola konsumerisme dari para wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus pada hanya ingin santai dan menikmati keindahan destinasi wisata secara fisik, akan tetapi saat ini pola konsumsi wisatawan mulai berubah ke jenis wisata yang tetap santai tetapi dengan selera yang meningkat, yaitu menikmati produk atau kreasi budaya (culture), peninggalan sejarah (heritage) dan nature atau ekowisata suatu daerah atau negara.

Seiring berjalannya waktu, globalisasi mengakibatkan adanya pengaruh konsumerisme massal yang memicu degradasi dan penghancuran sumber daya alam yang sangat penting bagi penghidupan masyarakat lokal. Disisi lain, materialisme dan konsumerisme mempengaruhi dan mengacaukan sistem nilai dari sistem sosial dan budaya yang mapan. Tidak hanya itu, fungsi kota sebagai pusat produksi barang mengalami pergeseran menjadi pusat konsumsi, yang ditandai dengan dipindahkan secara masif pusat-pusat produksi kedalam sub-urban dari pusat kota. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya saat ini adalah menjadikan bidang pariwisata sebagai fungsi utama dari pembangunan kota. Hal ini dilakukan karena sektor pariwisata terbukti secara sosio-ekonomi mampu menjadi faktor pendorong dalam pembangunan kota dan negara. Anggota masyarakat yang berbeda dapat berbagi pengalaman langsung bersama dan mengembangkan hubungan pribadi yang dapat tumbuh menjadi aliansi yang kuat yang berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Thailand adalah contoh dari negara-negara yang sukses menjadikan pariwisata sebagai brand image.

Salah satu konsep yang menjelaskan peranan komunitas dalam pembangunan pariwisata adalah Community Based Tourism (CBT) atau biasa juga disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual prinsip dasar kepariwisataan berbasis masyarakat adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi masyarakat. Sasaran utama pengembangan kepariwisataan haruslah meningkatkan kesejahteraan masyarakat (setempat). Konsep Community Based Tourism (CBT) digunakan oleh para perancang pembangunan pariwisata srategi untuk memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan sebagai patner industri pariwisata. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial ekonomi komunitas itu sendiri dan meletakkan nilai lebih dalam berpariwisata, khususnya kepada para wisatawan. Trend dunia global saat ini pengembangan community based Tourism telah digunakan sebagai alat dan strategi pembangunan tidak hanya terbatas di bidang pariwisata, melainkan dalam konteks pembangunan Negara, dengan membuka kesempatan dan akses komunitas untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Selain itu, community based tourism akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan, dan dalam perolehan bagian pendapatan terbesar secara langsung dari kehadiran para wisatawan. Sehingga dengan demikian community based tourism akan dapat menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata. Community based tourism adalah konsep ekonomi kerakyatan yang riil, yang langsung dilaksanakan oleh masyarakat dan hasilnyapun langsung dinikmati oleh masyarakat.

CBT bukan sekadar bisnis pariwisata yang bertujuan memaksimalkan keuntungan bagi investor. Sebaliknya, hal ini lebih mementingkan dampak pariwisata terhadap masyarakat dan sumber daya lingkungan. CBT muncul dari strategi pengembangan masyarakat, dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat pedesaan yang mengelola sumber daya pariwisata dengan partisipasi masyarakat setempat. Disisi lain, CBT tidak seutuhnya menjadi solusi yang sempurna untuk masalah masyarakat. Jika sembarangan diterapkan, CBT bisa menimbulkan masalah dan membawa bencana. Oleh karena itu, komunitas harus dipilih secara hati-hati dan disiapkan secara memadai sebelum mengoperasikan CBT agar sesuai untuk pengembangan CBT. Yang lebih penting lagi, masyarakat harus memiliki kekuatan untuk memodifikasi atau menangguhkan CBT agar tidak melampaui kapasitas pengelolaan masyarakat atau membawa dampak negatif yang tidak terkendali.

Community Based Tourism (CBT) memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu sebagai berikut :

  1. Mengakui, mendukung dan mempromosikan kepemilikan masyarakat terhadap pariwisata
  2. Melibatkan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek
  3. Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  4. Meningkatkan kualitas hidup
  5. Memastikan kelestarian lingkungan
  6. Mempertahankan karakter dan budaya unik daerah setempat
  7. Meningkatkan pembelajaran lintas budaya
  8. Menghormati perbedaan budaya dan martabat manusia
  9. Membagikan manfaat secara adil di antara anggota masyarakat
  10. Memberikan kontribusi persentase pendapatan yang tetap terhadap proyek masyarakat

Community Based Tourism (CBT) memiliki beberapa elemen uama. Berikut adalah elemen utama CBT :

  1. Sumber Daya Alam dan Budaya
  • Sumber daya alam terpelihara dengan baik
  • Ekonomi lokal dan mode produksi bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan
  • Bea dan budaya yang unik untuk suatu tujuan
  1. Organisasi Masyarakat
  • Komunitas berbagi kesadaran, norma, dan ideologi
  • Komunitas memiliki orang-orang tua yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan tradisional lokal
  • Komunitas memiliki rasa memiliki dan ingin berpartisipasi dalam perkembangannya sendiri
  1. Manajemen
  • Komunitas memiliki peraturan dan peraturan untuk pengelolaan lingkungan, budaya, dan pariwisata.
  • Suatu organisasi atau mekanisme lokal ada untuk mengelola pariwisata dengan kemampuan untuk menghubungkan pariwisata dan pengembangan masyarakat.
  • Manfaatnya terbagi secara merata ke semua.
  • Persentase keuntungan dari pariwisata berkontribusi pada dana masyarakat untuk pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
  1. Pembelajaan
  • Membina proses pembelajaran bersama antara host dan tamu
  • Mendidik dan membangun pemahaman tentang beragam budaya dan cara hidup
  • Meningkatkan kesadaran akan konservasi alam dan budaya di kalangan wisatawan dan masyarakat setempat.

CBT dan pengembangan komunitas terhubung secara inheren, karena keduanya memiliki sumber daya alam dan budaya yang sama. Norma budaya dan sosial tidak hanya menentukan penggunaan sumber daya tetapi juga menjembatani hubungan internal dan eksternal. CBT dapat digunakan sebagai alat untuk pengembangan masyarakat seperti sebagai berikut :

  1. Bidang Ekonomi
  • Menaikkan dana untuk pengembangan masyarakat
  • Menciptakan pekerjaan di bidang pariwisata
  • Menaikkan pendapatan masyarakat setempat
  1. Bidang Sosial
  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  • Membagi peran secara adil antara wanita, pria, remaja
  • Membangun organisasi manajemen masyarakat
  1. Bidang Budaya
  • Mendoorong rasa hormat terhadap budaya yang berbeda
  • Pertukaran budaya
  • Melibatkan perkembangan budaya lokal
  1. Bidang Politik
  • Mengaktifkan partisipasi masyarakat setempat
  • Meningkatkan kekuatan masyarakat di luar negeri
  • Memastikan hak pengelolaan sumber daya alam
  1. Bidang Lingkungan Hidup
  • Mempelajari daya dukung area tersebut
  • Mengelola pembuangan limbah
  • Meningkatkan kesadaran akan kebutuhan akan konservasi

Dalam mempersiapkan masyarakat untuk CBT harus mempertimbangkan pembentukan Kontrak atau Komitmen di antara para pemangku kepentingan. Hal ini bisa dilakukan melalui proses penyelesaian gol bersama dan ikut dalam sepuluh langkah di bawah ini :

  1. Memilih tujuan
  2. Selesaikan studi kelayakan kerja sama dengan masyarakat
  3. Tetapkan visi dan tujuan bersama masyarakat
  4. Kembangkan rencana untuk mempersiapkan masyarakat dalam mengelola pariwisata
  5. Menetapkan arahan pengelolaan organisasi
  6. Merancang program wisata
  7. Melatih panduan interpretif
  8. Mengembangkan rencana pemasaran
  9. Meluncurkan program tur percobaan
  10. Monitor dan mengevaluasi prosesnya

 

Sumber gambar :

https://www.cidahu.com

Pemberdayaan Masyarakat

Pada pembahasan dalam blok kali ini akan menjelaskan mengenai pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat mungkin sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang karena hal ini seringkali disebut-sebut baik dalam pembahasan dibidang sosial, politik, ekonomi, kemasyarakatan, bahkan hingga pembahasan dibidang pariwisata.

Pengertian dari pemberdayaan sendiri  secara terminologi ‘Pemberdayaan’ diambil dari Bahasa Inggris ‘empowerment’ dari kata dasar ‘power’ berarti ‘daya atau kekuatan’.   Tujuan dari upaya pemberdayaan yaitu untuk meningkatkan kekuatan atau daya pihak-pihak yang kurang atau tidak berdaya, sehingga pemberdayaan ini diharapkan dapat memampukan dan memandirikan masyarakat agar menghasilkan sesuatu hal yang bermanfaat.

Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan, diharapkan dalam masa yang akan datang masyarakat tersebut dapat menjadi lebih tinggi dan lebih baik lagi harkat dan taraf hidupnya.

Upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan cara memberikan suatu bantuan kekuatan dalam bentuk bantuan, pelatihan, penyuluhan, maupun memfasilitasi masyarakat agar mereka dapat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula berpartisipasi.

ok34456

Dalam upaya pemberdayaan, terdapat tiga pilar, yaitu :

  1. Pemungkinan (enabling), yaitu upaya kegiatan pemberdayaan yang dilakukan masyarakat yang dimungkinkan membawa dampak positif serta dapat memperbaiki situasi dan kondisi masyarakat itu sendiri.
  2. Penguatan (strengthening), yaitu upaya pemberdayaan dengan menguatkan, meningkatkan, serta memajukan hal yang sudah dimiliki masyarakat, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, kreatifitas, produk, dan lain sebagainya.
  3. Perlindungan (protecting), yaitu upaya pemberdayaan dengan melakukan perlindungan atau penjagaan terhadap suatu hal di masyarakat yang sangat rawan kerusakan atau kepunahan, seperti merawat dan melestarikan alam, budaya, kesenian, dan tradisi.

Ada 4 prinsip dalam pemberdayaan, yaitu Kepemimpinan, Kemitraan, Patungan, Keswadayaan.

Pemberdayaan dapat menciptakan suatu esensi pembangunan, karena semakin baik dari suatu kegiatan pemberdayaan di masyarakat, maka masyarakat akan semakin mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, lebih berdaya menolong dirinya sendiri, semakin berperan dalam memperkuat mobilitas sosial dalam masyarakat, dan semakin berdaya saing dalam tatanan masyarakat ekonomi yang lebih.

 

Sumber gambar :

http://www.ljj-kesehatan.kemkes.go.id

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

 

Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman di Desa Wisata Religi Mlangi

            Wisata religi adalah jenis wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan. Para wisatawan bisa mendapatkan pengalaman spriritual yang bermanfaat agar mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Wisata religi menjadi suatu pilihan yang menarik untuk dijadikan tempat berekreasi dan bisa dijadikan tempat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

            Salah satu tempat wisata religi di Yogyakarta yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan apabila sedang berkunjung ke Jogja adalah Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman di Desa Wisata Religi di Dusun Mlangi.Dusun Mlangi terletak di sebelah Barat laut Kota yogyakarta,  tepatnya di Desa Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pada jaman dahulu, Dusun Mlangi merupakan hadiah atau pemberian Sultan Hamengku Buwono I terhadap kerabatnya yaitu Kyai Nur Iman yang bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo, yang merupakan putra dari RP. Suryo Putro, putra sulung Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I, Kemudian pemberian tersebut oleh Kyai Nur Iman dijadikan tempat pengembangan agama islam. Kemudian mendirikan tempat mengajar bagi para santri, atau dalam bahasa jawa dikatakan mulangi dan akhirnya tersebut Mlangi.

            Di Desa Mlangi ini terdapat sebuah masjid dengan bangunannya yang legendaris yaitu Masjid Jami’ Mlangi, disebut bangunan legendaris karena masjid ini dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an.Masjid ini cukup unik karena memiliki desain arsitektur mirip dengan keraton. Masjid Jami’ Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi, yang terdiri atas bagian ruang utama, serambi masjid, ruang perpustakaan, dan halaman masjid.

Bangunan di masjid ini identik dengan arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada waktu dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pesantren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid. Namun, bentuk bangunan ini sudah banyak mengalami perubahan. Blumbang yang dulu mengelilingi masjid, sekarang sudah tidak ada lagi karena ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

            Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat. Di sini juga terdapat makam Kyai Nur Iman.Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu. Makam itu selalu ramai sepanjang tahun, terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur’an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.

            Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul, yaitu tradisi dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini. Tradisi ini bermula sejak Hamnegkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. Artinya sageto manggul ayahandanipun kyai Nur Iman dalam hajatnya menyebarkan ajaran Islam.

            Letak dari lokasi Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman ini kurang lebih 7 km arah barat laut dari ibu kota provinsi, dan 7 km dari arah utara kabupaten. Akses untuk menuju kesini bila berjalan ke arah utara bisa melewati ring road barat Yogyakarta, dan melaju mengikuti arah jalan beraspal dan akan sampai di Dusun Mlangi, tepatnya di Masjid Jami’ Mlangi.  Untuk menuju ke tempat ini, bisa menggunakan kendaraan pribadi berupa mobil atau motor. Pengunjung tidak dikenakan tiket tarif apapun di tempat ini. Dan pengunjung bisa datang kesini kapanpun karena tidak ada batasan waktu berkunjung.

            Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman ini sangat baik dikunjungi bagi para wisatawan yang mencari destinasi wisata spriritual yang bermanfaat untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, selain itu juga menjadi sebuah wiisata religi untuk dijadikan tempat berekreasi dan tempat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Sumber :

http://jogjatrip.com/id/1363/Mlangi-Islamic-Village

https://gudeg.net/direktori/1184/masjid-pathok-negara-mlangi-yogyakarta.html

https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/pilgrimage-sites/mlangi/