Trip to Desa Wisata Ngringinan

Pada hari Sabtu lalu, tepatnya 10 Maret 2018 saya dan teman-teman program studi D3 Kepariwisataan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melakukan perjalanan kuliah lapangan ke Desa wisata Ngringinan. Desa wisata Ngringinan terletak di Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pagi hari pukul 06.45 saya dan teman-teman saya berkumpul di Koperasi Kopma UGM (depan Sekolah Vokasi UGM) sebelum berangkat ke Desa wisata Ngringinan. Setelah semua teman-teman berkumpul disana, tepat pukul 07.00 kami semua berangkat ke Desa wisata Ngringinan mengendarai sepeda motor. Jarak antara Sekolah Vokasi titik kumpul keberangkatan kami dan Desa wisata Ngringinan kurang lebih 21 Km, dan lama perjalanan sekitar 45 menit apabila ditempuh dengan kendaraan mobil atau sepeda motor.

Kami tiba di Desa wisata Ngringinan pukul 07.45, saat masuk ke desa ini terlihat hamparan sawah hijau yang luas yang menyejukkan mata, rumah rumah sederhana ala pedesaan serta aktivitas warga desa yang damai juga terlihat disini.

Setelah kami sampai di desa Ngringinan saya dan teman-teman langsung mencari rumah kediaman Bapak Widu Kuntoro yang juga sekaligus menjadi museum Belanda. Bapak Widu Kuntoro atau yang biasa dipanggil Pak Kun merupakan salah satu pengelola Desa wisata Ngringinan. Sampai disana, beliau mempersilahkan saya dan seluruh teman-teman masuk kedalam rumahnya, kami diberi pengantar dan penjelasan sedikit mengenai desa wisata Ngrnginan oleh Pak Kun.

Desa wisata Ngringinan merupakan desa wisata yang terbilang baru, karena baru saja dibuka. Tadinya desa Ngringinan ini seperti desa pada umumnya, namun beberapa waktu terakhir beberapa warga desa mulai mengelola desa ini menjadi desa wisata. Walaupun terbilang sebagai desa wisata baru, namun desa wisata ini sudah dikunjungi oleh beberapa wisatawan domestik maupun manca negara yaitu dari Afganistan, dan beberapa negara lain. Desa wisata Ngringinan ini cukup unik karena desa ini memiliki beberapa peninggalan Belanda berupa bangunan dan benda. Bangunan peninggalan Belanda yang sampe saat ini masih berdiri di desa ini yaitu Rumah Sakit ST. Elisabeth dan Gereja HKTY Ganjuran.

Wisatawan yang datang ke desa wisata ini kebanyakan adalah para peziarah yang mayoritas datang dari daerah Jakarta, Bogor, dan Semarang. Desa wisata ini juga sering dikunjungi oleh sekolah-sekolah dan universitas sebagai kuliah lapangan dan wisata edukasi. Beberapa universitas yang pernah datang ke desa wisata ini antara lain adalah dari Atmajaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Unida, bahkan dari mancanegara yaitu Osaka University.

Yang paling menarik para wisatawan dari Desa wisata Ngringinan ini adalah Komplek Gereja HKTY  Ganjuran. Komplek ini terdapat beberapa gereja, serambi, taman, pendopo, dan yang paling menarik adalah terdapat candi sebagai salah satu bukti akulturasi budaya antara agama hindu dan katolik. Konon, gereja ini merupakan bangunan tua salah satu peninggalan Belanda. Di komplek gereja ini sering ada acara rutin yang menarik para wisatawan terutama para peziarah untuk berkunjung seperti sembayangan misa pada bulan Juni yang dihadiri sekitar 2000 orang, perebutan tumpeng yang diikuti sekitar 10.000 orang, dan lain-lain.

Desa wisata Ngringinan ini tidak hanya menawarkan wisata ziarah saja, akan tetapi ada paket wisata lainnya seperti cooking class dan outbound. Apabila anda memilih cooking class, anda akan diajari memasak makanan khas desa Ngringinan yaitu Madumongso. Madumongso adalah makanan snack tradisional yang terbuat dari tape ketan yang dimasak dengan cara dikukus dan ditambahkan gula, santan, daun pandan, yang diaduk-aduk hingga mengental kemudian di cetak lalu setelah dingin dibungkus menggunakan kertas minyak berukuran kecil.

Untuk anda yang tertarik mengunjungi desa wisata Ngringinan dan berniat untuk menginap, jangan khawatir karena Desa wisata Ngringinan ini menyediakan akomodasi homestay bermalam di rumah warga desa. Ada sekitar 25 rumah warga yang dapat digunakan para wisatawan untuk menginap. Lagi-lagi ada hal menarik di desa wisata ini, walaupun para wisatawan yang datang ke desa Ngringinan adalah para peziarah non muslim, akan tetapi warga desa yang menyediakan akomodasi homestay dan penyedia fasilitas lainnya seperti parkir dan warung makan disini mayoritas beragama Islam dan tetap damai hidup berdampingan. Disini, anda tidak hanya belajar tentang budaya atau sejarah peninggalan Belanda saja, akan tetapi juga belajar tentang rasa saling menghormati antar umat beragama dan rasa toleransi yang tinggi antar manusia.

Tinggalkan komentar