Community Based Tourism (CBT) – Prinsip dan Pengertian

Globalisasi adalah era modernisasi yang menyebabkan perubahan yang cukup signifikan diberbagai aspek dalam kehidupan, baik teknologi, ekonomi, sosial, budaya, dan masih banyak lagi. Salah satu aspek yang dipengaruhi oleh globalisasi ialah aspek dibidang pariwisata. Globalisasi telah membuat adanya pergeseran fungsi kota dari pusat produksi menjadi pusat konsumsi, yang ditandai dengan perubahan pola konsumerisme dari para wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus pada hanya ingin santai dan menikmati keindahan destinasi wisata secara fisik, akan tetapi saat ini pola konsumsi wisatawan mulai berubah ke jenis wisata yang tetap santai tetapi dengan selera yang meningkat, yaitu menikmati produk atau kreasi budaya (culture), peninggalan sejarah (heritage) dan nature atau ekowisata suatu daerah atau negara.

Seiring berjalannya waktu, globalisasi mengakibatkan adanya pengaruh konsumerisme massal yang memicu degradasi dan penghancuran sumber daya alam yang sangat penting bagi penghidupan masyarakat lokal. Disisi lain, materialisme dan konsumerisme mempengaruhi dan mengacaukan sistem nilai dari sistem sosial dan budaya yang mapan. Tidak hanya itu, fungsi kota sebagai pusat produksi barang mengalami pergeseran menjadi pusat konsumsi, yang ditandai dengan dipindahkan secara masif pusat-pusat produksi kedalam sub-urban dari pusat kota. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya saat ini adalah menjadikan bidang pariwisata sebagai fungsi utama dari pembangunan kota. Hal ini dilakukan karena sektor pariwisata terbukti secara sosio-ekonomi mampu menjadi faktor pendorong dalam pembangunan kota dan negara. Anggota masyarakat yang berbeda dapat berbagi pengalaman langsung bersama dan mengembangkan hubungan pribadi yang dapat tumbuh menjadi aliansi yang kuat yang berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Thailand adalah contoh dari negara-negara yang sukses menjadikan pariwisata sebagai brand image.

Salah satu konsep yang menjelaskan peranan komunitas dalam pembangunan pariwisata adalah Community Based Tourism (CBT) atau biasa juga disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual prinsip dasar kepariwisataan berbasis masyarakat adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi masyarakat. Sasaran utama pengembangan kepariwisataan haruslah meningkatkan kesejahteraan masyarakat (setempat). Konsep Community Based Tourism (CBT) digunakan oleh para perancang pembangunan pariwisata srategi untuk memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan sebagai patner industri pariwisata. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial ekonomi komunitas itu sendiri dan meletakkan nilai lebih dalam berpariwisata, khususnya kepada para wisatawan. Trend dunia global saat ini pengembangan community based Tourism telah digunakan sebagai alat dan strategi pembangunan tidak hanya terbatas di bidang pariwisata, melainkan dalam konteks pembangunan Negara, dengan membuka kesempatan dan akses komunitas untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Selain itu, community based tourism akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan, dan dalam perolehan bagian pendapatan terbesar secara langsung dari kehadiran para wisatawan. Sehingga dengan demikian community based tourism akan dapat menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata. Community based tourism adalah konsep ekonomi kerakyatan yang riil, yang langsung dilaksanakan oleh masyarakat dan hasilnyapun langsung dinikmati oleh masyarakat.

CBT bukan sekadar bisnis pariwisata yang bertujuan memaksimalkan keuntungan bagi investor. Sebaliknya, hal ini lebih mementingkan dampak pariwisata terhadap masyarakat dan sumber daya lingkungan. CBT muncul dari strategi pengembangan masyarakat, dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat pedesaan yang mengelola sumber daya pariwisata dengan partisipasi masyarakat setempat. Disisi lain, CBT tidak seutuhnya menjadi solusi yang sempurna untuk masalah masyarakat. Jika sembarangan diterapkan, CBT bisa menimbulkan masalah dan membawa bencana. Oleh karena itu, komunitas harus dipilih secara hati-hati dan disiapkan secara memadai sebelum mengoperasikan CBT agar sesuai untuk pengembangan CBT. Yang lebih penting lagi, masyarakat harus memiliki kekuatan untuk memodifikasi atau menangguhkan CBT agar tidak melampaui kapasitas pengelolaan masyarakat atau membawa dampak negatif yang tidak terkendali.

Community Based Tourism (CBT) memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu sebagai berikut :

  1. Mengakui, mendukung dan mempromosikan kepemilikan masyarakat terhadap pariwisata
  2. Melibatkan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek
  3. Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  4. Meningkatkan kualitas hidup
  5. Memastikan kelestarian lingkungan
  6. Mempertahankan karakter dan budaya unik daerah setempat
  7. Meningkatkan pembelajaran lintas budaya
  8. Menghormati perbedaan budaya dan martabat manusia
  9. Membagikan manfaat secara adil di antara anggota masyarakat
  10. Memberikan kontribusi persentase pendapatan yang tetap terhadap proyek masyarakat

Community Based Tourism (CBT) memiliki beberapa elemen uama. Berikut adalah elemen utama CBT :

  1. Sumber Daya Alam dan Budaya
  • Sumber daya alam terpelihara dengan baik
  • Ekonomi lokal dan mode produksi bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan
  • Bea dan budaya yang unik untuk suatu tujuan
  1. Organisasi Masyarakat
  • Komunitas berbagi kesadaran, norma, dan ideologi
  • Komunitas memiliki orang-orang tua yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan tradisional lokal
  • Komunitas memiliki rasa memiliki dan ingin berpartisipasi dalam perkembangannya sendiri
  1. Manajemen
  • Komunitas memiliki peraturan dan peraturan untuk pengelolaan lingkungan, budaya, dan pariwisata.
  • Suatu organisasi atau mekanisme lokal ada untuk mengelola pariwisata dengan kemampuan untuk menghubungkan pariwisata dan pengembangan masyarakat.
  • Manfaatnya terbagi secara merata ke semua.
  • Persentase keuntungan dari pariwisata berkontribusi pada dana masyarakat untuk pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
  1. Pembelajaan
  • Membina proses pembelajaran bersama antara host dan tamu
  • Mendidik dan membangun pemahaman tentang beragam budaya dan cara hidup
  • Meningkatkan kesadaran akan konservasi alam dan budaya di kalangan wisatawan dan masyarakat setempat.

CBT dan pengembangan komunitas terhubung secara inheren, karena keduanya memiliki sumber daya alam dan budaya yang sama. Norma budaya dan sosial tidak hanya menentukan penggunaan sumber daya tetapi juga menjembatani hubungan internal dan eksternal. CBT dapat digunakan sebagai alat untuk pengembangan masyarakat seperti sebagai berikut :

  1. Bidang Ekonomi
  • Menaikkan dana untuk pengembangan masyarakat
  • Menciptakan pekerjaan di bidang pariwisata
  • Menaikkan pendapatan masyarakat setempat
  1. Bidang Sosial
  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  • Membagi peran secara adil antara wanita, pria, remaja
  • Membangun organisasi manajemen masyarakat
  1. Bidang Budaya
  • Mendoorong rasa hormat terhadap budaya yang berbeda
  • Pertukaran budaya
  • Melibatkan perkembangan budaya lokal
  1. Bidang Politik
  • Mengaktifkan partisipasi masyarakat setempat
  • Meningkatkan kekuatan masyarakat di luar negeri
  • Memastikan hak pengelolaan sumber daya alam
  1. Bidang Lingkungan Hidup
  • Mempelajari daya dukung area tersebut
  • Mengelola pembuangan limbah
  • Meningkatkan kesadaran akan kebutuhan akan konservasi

Dalam mempersiapkan masyarakat untuk CBT harus mempertimbangkan pembentukan Kontrak atau Komitmen di antara para pemangku kepentingan. Hal ini bisa dilakukan melalui proses penyelesaian gol bersama dan ikut dalam sepuluh langkah di bawah ini :

  1. Memilih tujuan
  2. Selesaikan studi kelayakan kerja sama dengan masyarakat
  3. Tetapkan visi dan tujuan bersama masyarakat
  4. Kembangkan rencana untuk mempersiapkan masyarakat dalam mengelola pariwisata
  5. Menetapkan arahan pengelolaan organisasi
  6. Merancang program wisata
  7. Melatih panduan interpretif
  8. Mengembangkan rencana pemasaran
  9. Meluncurkan program tur percobaan
  10. Monitor dan mengevaluasi prosesnya

 

Sumber gambar :

https://www.cidahu.com

Tinggalkan komentar