RURAL TOURISM AND RECREATION

Tabel 1.2 Ringkasan dampak pariwisata dan rekreasi di daerah pedesaan

Kegiatan pariwisata dan rekereasi di daerah desa atau pedalaman tentu memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi masyarakat serta lingkungan, baik dampak dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Dampak dari adanya kegiatan pariwisata di daerah pedesaan seperti dua ujung tombak yang memiliki dampak positif serta negatif, berikut adalah dampak positif/negatif dari adanya kegiatan pariwisata di daerah pedasaan atau pedalaman, antara lain adalah :

  1. Dampak Positif Pariwisata dan Rekreasi di Pedesaan
  • Dampak positif Sosial – Ekonomi
  1. Menyediakan sumber pendapatan baru, alternatif atau tambahan dan pekerjaan
  2. Membantu mengurangi ketidakseimbangan kekuatan gender dan ketidakseimbangan sosial lainnya
  3. Mendorong kegiatan komunitas kolektif
  4. Memberikan kesempatan untuk mempertahankan populasi di daerah yang mungkin mengalami depopulasi
  5. Memungkinkan daerah untuk diisi ulang
  6. Efek multiplier secara keseluruhan, walaupun di daerah pedesaan ini cenderung lebih rendah
  • Dampak positif Budaya
  1. Menguatkan kembali budaya lokal
  2. Menciptakan harga diri dan identitas diri
  • Dampak positif Fisik : buatan dan alami
  1. Kontribusi konservasi dan perlindungan
  2. Membantu perbaikan dan penggunaan kembali properti terbengkalai

2. Dampak Negatif Pariwisata dan Rekreasi di Pedesaan

  • Dampak negatif Sosial – Ekonomi
  1. Kebocoran ekonomi
  2. Inflasi harga lokal
  3. Tenaga kerja dalam migrasi
  4. Mendistorsi struktur ketenagakerjaan lokal
  5. Mendistorsi pasar perumahan lokal
  6. Memperkuat persepsi pekerjaan perempuan sebagai gaji rendah dan paruh waktu dan perpanjangan ‘peran dalam rumah tangga’
  7. Kompleks mandiri dengan jaringan yang lemah terhadap ekonomi lokal
  8. Pola permintaan musiman
  • Dampak negatif Budaya
  1. Memproduksi atau mendistorsi ‘budaya’ lokal untuk komoditi dan keaslian bertahap
  2. Hancurkan budaya asli
  • Dampak negatif Fisik : buatan dan alami
  1. Kerusakan habitat
  2. Mengotori, emisi dan bentuk polusi lainnya
  3. Kemacetan
  4. Pembangunan baru, mungkin dicangkokkan ke permukiman yang ada

Rural Tourism and Recreation

Tabel 1.1 Kumpulan Aktivitas Kepariwisataan dan Rekreasi di Daerah Pedesaan

Aktifitas kepariwisataan dan rekreasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh para wisatawan saat sedang berlibur ke suatu destinasi wisata.  Aktifitas kepariwisataan dan rekreasi sangatlah beragam, tergantung dari tempat yang dikunjungi. Menurut jumlah wisatawan, aktifitas rekreasi bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok, dan bisa dimulai dengan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana hingga kegiatan yang menantang adrenaline. Ada beberapa tempat pilihan untuk melakukan aktifitas kepariwisataan dan rekreasi yaitu tempat rekreasi alam, buatan, ada yang di perkotaan, maupun di pedesaan.

Pada blog kali ini, akan membahas tentang macam-macam kumpulan aktifitas kepariwisataan dan rekreasi yang ada dan dapat dilakukan di daerah pedesaan, antara lain adalah :

  1. Perjalanan
  • Mendaki (jalan setapak, jalur kebugaran, taman alam)
  • Berkuda
  • Tur di kafilah gipsi, gerobak
  • Bermotor touring (trail riding, all-terrain vehicles, otomotif)
  • Tur kota / desa kecil
  • Bersepeda Artistik
  • Berkuda
  • Ski lintas negara
  1. Aktivitas terkait air
  • Penangkapan ikan
  • Renang
  • Wisata sungai / kanal (rumah perahu, kapal sempit, tongkang)
  • Perahu kano, kayak dan arung jeram
  • Selancar angin
  • Balap speedboat
  • Pelayaran
  • Fasilitas ‘aqualand’
  1. Kegiatan udara
  • Pesawat ringan
  • Pesawat layang dan pesawat ringan mikro
  • Balon udara panas
  1. Kegiatan olah raga
  • Membutuhkan pengaturan alam:
  • Potholing
  • Panjat tebing
  • Orienteering

Membutuhkan pengaturan yang dimodifikasi / dibangun:

  • Tenis
  • Golf
  • Intensitas rendah ski lereng
  • Berburu
  1. Kegiatan budaya
  • Arkeologi
  • Situs restorasi
  • Studi warisan pedesaan
  • Perusahaan industri, pertanian atau kerajinan lokal
  • Museum
  • Kursus kerajinan
  • Bengkel artistik
  • Kelompok rakyat
  • Rute budaya, gastronomi dan lainnya
  1. Kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan
  • Pelatihan kebugaran
  • Kursus penyerangan
  • Spa dan resor kesehatan
  1. Aktivitas pasif
  • Liburan relaksasi di lingkungan pedesaan
  • Studi alam di setting outdoor, termasuk birdwatching, photography
  • Apresiasi lanskap
  1. Acara ‘Hallmark’
  • Festival olahraga pedesaan
  • Acara pertanian
  1. Hubungan bisnis
  • Konvensi / konferensi berskala kecil
  • Pariwisata insentif pendek-istirahat

Desa Wisata Ubud, Gianyar, Bali

Hasil gambar untuk desa wisata ubud gianyar bali

Desa wisata saat ini menjadi salah satu destinasi yang diminati oleh para wisatawan. Hal ini membuat munculnya banyak desa – desa yang diubah menjadi desa wisata. Kemunculan desa wisata tersebut telah hampir tersebar di seluruh Indonesia, baik dari daerah dengan sektor utamanya adalah pariwisata seperti Bali, hingga daerah pelosok sekalipun. Salah satu desa wisata di Bali yang sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara dan wisatawan Indonesia adalah desa wisata Ubud, Gianyar, Bali. Desa wisata Ubud merupakan tempat wisata di pulau Bali yang sudah terkenal semejak tahun 1930-an.

Desa wisata Ubud, Gianyar, Bali beberapa waktu terakhir ini juga dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh desa wisata terbaik di Indonesia. Penghargaan ini tentu menjadi hal yang sangat pantas didapatkan oleh desa wisata Ubud, Gianyar karena sangat sesuai dengan keindahan yang ada disana.

Beberapa hal atau alasan yang membuat desa Ubud, Gianyar menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia adalah :

  1. Kondisi geografis alamnya

Desa wisata Ubud, Gianyar, Bali, memiliki lokasi yang terletak di antara areal persawahan berbukit yang sejuk, kawasan hutan yang lebat dan hijau, serta diapit oleh jurang dengan sungai yang indah. Lokasi yang masih alami inilah yang menjadi daya tarik utama desa wisata Ubud.

  1. Budaya yang sangat kental

Selain karena kondisi alam, Ubud juga terkenal karena kesenian dan budaya Bali. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lokal Ubud tidak lepas dari unsur seni dan budaya. Selain itu masyarakat lokal Ubud sangat artistik dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai seniman, antara lain seniman lukis, seniman kerajinan tangan, seniman ukir, seniman patung, seniman tari, maupun musik tradisional. Oleh sebab itu, sebagian besar di pinggir jalan kawasan wisata di Ubud banyak terdapat museum dan toko yang menjual kerajinan seniman lokal.

Obyek Wisata Ubud Bali

Desa wisata Ubud, Gianyar, Bali memang sangat terkenal dengan seni dan budaya bali yang kental, sehingga desa ini tidak hanya dikunjungi para wisatawan untuk menikmati keindahan alam dan budayanya saja, akan tetapi banyak orang yang datang kesini untuk belajar kesenian yang ada di desa Ubud, Gianyar, Bali ini.

Desa wisata Ubud tidak hanya sebagai destinasi wisata, namun Ubud juga mampu menyelaraskan wirausaha UKM dan mengembangkan desanya sebagai upaya untuk menarik wisatawan. Desa Wisata ini bisa berfungsi ganda yaitu sebagai amenitas dengan homestaynya (akomodasi di rumah penduduk yang sudah sadar wisata), juga sekaligus sebagai atraksi, karena berada dalam atmosfer kehidupan masyarakat desa yang hommy dan nuansa kekeluargaan, serta kaya dengan sentuhan budaya yang belum tentu bisa ditemukan di negara lain.

Hal lain yang sangat menarik dari desa wisata Ubud yaitu, Desa Wisata kawasan Ubud, Gianyar, Bali menjadi percontohan bagi pengembangan desa wisata di Tanah Air.

 

Sumber Gambar :

http://www.katakansaja.com/2017/01/desa-wisata-ubud-bali.html

https://www.rentalmobilbali.net/wisata-ubud-bali/

Anggota Kelompok :

  1. Dewi Rahmawati
  2. Dwi Ajeng Ramadhanti
  3. Fadhilah Ryan Yoga
  4. Fadil Maulana Yoga

Community Based Tourism (CBT) – Prinsip dan Pengertian

Globalisasi adalah era modernisasi yang menyebabkan perubahan yang cukup signifikan diberbagai aspek dalam kehidupan, baik teknologi, ekonomi, sosial, budaya, dan masih banyak lagi. Salah satu aspek yang dipengaruhi oleh globalisasi ialah aspek dibidang pariwisata. Globalisasi telah membuat adanya pergeseran fungsi kota dari pusat produksi menjadi pusat konsumsi, yang ditandai dengan perubahan pola konsumerisme dari para wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus pada hanya ingin santai dan menikmati keindahan destinasi wisata secara fisik, akan tetapi saat ini pola konsumsi wisatawan mulai berubah ke jenis wisata yang tetap santai tetapi dengan selera yang meningkat, yaitu menikmati produk atau kreasi budaya (culture), peninggalan sejarah (heritage) dan nature atau ekowisata suatu daerah atau negara.

Seiring berjalannya waktu, globalisasi mengakibatkan adanya pengaruh konsumerisme massal yang memicu degradasi dan penghancuran sumber daya alam yang sangat penting bagi penghidupan masyarakat lokal. Disisi lain, materialisme dan konsumerisme mempengaruhi dan mengacaukan sistem nilai dari sistem sosial dan budaya yang mapan. Tidak hanya itu, fungsi kota sebagai pusat produksi barang mengalami pergeseran menjadi pusat konsumsi, yang ditandai dengan dipindahkan secara masif pusat-pusat produksi kedalam sub-urban dari pusat kota. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya saat ini adalah menjadikan bidang pariwisata sebagai fungsi utama dari pembangunan kota. Hal ini dilakukan karena sektor pariwisata terbukti secara sosio-ekonomi mampu menjadi faktor pendorong dalam pembangunan kota dan negara. Anggota masyarakat yang berbeda dapat berbagi pengalaman langsung bersama dan mengembangkan hubungan pribadi yang dapat tumbuh menjadi aliansi yang kuat yang berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Thailand adalah contoh dari negara-negara yang sukses menjadikan pariwisata sebagai brand image.

Salah satu konsep yang menjelaskan peranan komunitas dalam pembangunan pariwisata adalah Community Based Tourism (CBT) atau biasa juga disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual prinsip dasar kepariwisataan berbasis masyarakat adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi masyarakat. Sasaran utama pengembangan kepariwisataan haruslah meningkatkan kesejahteraan masyarakat (setempat). Konsep Community Based Tourism (CBT) digunakan oleh para perancang pembangunan pariwisata srategi untuk memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan sebagai patner industri pariwisata. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial ekonomi komunitas itu sendiri dan meletakkan nilai lebih dalam berpariwisata, khususnya kepada para wisatawan. Trend dunia global saat ini pengembangan community based Tourism telah digunakan sebagai alat dan strategi pembangunan tidak hanya terbatas di bidang pariwisata, melainkan dalam konteks pembangunan Negara, dengan membuka kesempatan dan akses komunitas untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Selain itu, community based tourism akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan, dan dalam perolehan bagian pendapatan terbesar secara langsung dari kehadiran para wisatawan. Sehingga dengan demikian community based tourism akan dapat menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata. Community based tourism adalah konsep ekonomi kerakyatan yang riil, yang langsung dilaksanakan oleh masyarakat dan hasilnyapun langsung dinikmati oleh masyarakat.

CBT bukan sekadar bisnis pariwisata yang bertujuan memaksimalkan keuntungan bagi investor. Sebaliknya, hal ini lebih mementingkan dampak pariwisata terhadap masyarakat dan sumber daya lingkungan. CBT muncul dari strategi pengembangan masyarakat, dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat pedesaan yang mengelola sumber daya pariwisata dengan partisipasi masyarakat setempat. Disisi lain, CBT tidak seutuhnya menjadi solusi yang sempurna untuk masalah masyarakat. Jika sembarangan diterapkan, CBT bisa menimbulkan masalah dan membawa bencana. Oleh karena itu, komunitas harus dipilih secara hati-hati dan disiapkan secara memadai sebelum mengoperasikan CBT agar sesuai untuk pengembangan CBT. Yang lebih penting lagi, masyarakat harus memiliki kekuatan untuk memodifikasi atau menangguhkan CBT agar tidak melampaui kapasitas pengelolaan masyarakat atau membawa dampak negatif yang tidak terkendali.

Community Based Tourism (CBT) memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu sebagai berikut :

  1. Mengakui, mendukung dan mempromosikan kepemilikan masyarakat terhadap pariwisata
  2. Melibatkan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek
  3. Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  4. Meningkatkan kualitas hidup
  5. Memastikan kelestarian lingkungan
  6. Mempertahankan karakter dan budaya unik daerah setempat
  7. Meningkatkan pembelajaran lintas budaya
  8. Menghormati perbedaan budaya dan martabat manusia
  9. Membagikan manfaat secara adil di antara anggota masyarakat
  10. Memberikan kontribusi persentase pendapatan yang tetap terhadap proyek masyarakat

Community Based Tourism (CBT) memiliki beberapa elemen uama. Berikut adalah elemen utama CBT :

  1. Sumber Daya Alam dan Budaya
  • Sumber daya alam terpelihara dengan baik
  • Ekonomi lokal dan mode produksi bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan
  • Bea dan budaya yang unik untuk suatu tujuan
  1. Organisasi Masyarakat
  • Komunitas berbagi kesadaran, norma, dan ideologi
  • Komunitas memiliki orang-orang tua yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan tradisional lokal
  • Komunitas memiliki rasa memiliki dan ingin berpartisipasi dalam perkembangannya sendiri
  1. Manajemen
  • Komunitas memiliki peraturan dan peraturan untuk pengelolaan lingkungan, budaya, dan pariwisata.
  • Suatu organisasi atau mekanisme lokal ada untuk mengelola pariwisata dengan kemampuan untuk menghubungkan pariwisata dan pengembangan masyarakat.
  • Manfaatnya terbagi secara merata ke semua.
  • Persentase keuntungan dari pariwisata berkontribusi pada dana masyarakat untuk pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
  1. Pembelajaan
  • Membina proses pembelajaran bersama antara host dan tamu
  • Mendidik dan membangun pemahaman tentang beragam budaya dan cara hidup
  • Meningkatkan kesadaran akan konservasi alam dan budaya di kalangan wisatawan dan masyarakat setempat.

CBT dan pengembangan komunitas terhubung secara inheren, karena keduanya memiliki sumber daya alam dan budaya yang sama. Norma budaya dan sosial tidak hanya menentukan penggunaan sumber daya tetapi juga menjembatani hubungan internal dan eksternal. CBT dapat digunakan sebagai alat untuk pengembangan masyarakat seperti sebagai berikut :

  1. Bidang Ekonomi
  • Menaikkan dana untuk pengembangan masyarakat
  • Menciptakan pekerjaan di bidang pariwisata
  • Menaikkan pendapatan masyarakat setempat
  1. Bidang Sosial
  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Mempromosikan kebanggaan masyarakat
  • Membagi peran secara adil antara wanita, pria, remaja
  • Membangun organisasi manajemen masyarakat
  1. Bidang Budaya
  • Mendoorong rasa hormat terhadap budaya yang berbeda
  • Pertukaran budaya
  • Melibatkan perkembangan budaya lokal
  1. Bidang Politik
  • Mengaktifkan partisipasi masyarakat setempat
  • Meningkatkan kekuatan masyarakat di luar negeri
  • Memastikan hak pengelolaan sumber daya alam
  1. Bidang Lingkungan Hidup
  • Mempelajari daya dukung area tersebut
  • Mengelola pembuangan limbah
  • Meningkatkan kesadaran akan kebutuhan akan konservasi

Dalam mempersiapkan masyarakat untuk CBT harus mempertimbangkan pembentukan Kontrak atau Komitmen di antara para pemangku kepentingan. Hal ini bisa dilakukan melalui proses penyelesaian gol bersama dan ikut dalam sepuluh langkah di bawah ini :

  1. Memilih tujuan
  2. Selesaikan studi kelayakan kerja sama dengan masyarakat
  3. Tetapkan visi dan tujuan bersama masyarakat
  4. Kembangkan rencana untuk mempersiapkan masyarakat dalam mengelola pariwisata
  5. Menetapkan arahan pengelolaan organisasi
  6. Merancang program wisata
  7. Melatih panduan interpretif
  8. Mengembangkan rencana pemasaran
  9. Meluncurkan program tur percobaan
  10. Monitor dan mengevaluasi prosesnya

 

Sumber gambar :

https://www.cidahu.com

Pemberdayaan Masyarakat

Pada pembahasan dalam blok kali ini akan menjelaskan mengenai pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat mungkin sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang karena hal ini seringkali disebut-sebut baik dalam pembahasan dibidang sosial, politik, ekonomi, kemasyarakatan, bahkan hingga pembahasan dibidang pariwisata.

Pengertian dari pemberdayaan sendiri  secara terminologi ‘Pemberdayaan’ diambil dari Bahasa Inggris ‘empowerment’ dari kata dasar ‘power’ berarti ‘daya atau kekuatan’.   Tujuan dari upaya pemberdayaan yaitu untuk meningkatkan kekuatan atau daya pihak-pihak yang kurang atau tidak berdaya, sehingga pemberdayaan ini diharapkan dapat memampukan dan memandirikan masyarakat agar menghasilkan sesuatu hal yang bermanfaat.

Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan, diharapkan dalam masa yang akan datang masyarakat tersebut dapat menjadi lebih tinggi dan lebih baik lagi harkat dan taraf hidupnya.

Upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan cara memberikan suatu bantuan kekuatan dalam bentuk bantuan, pelatihan, penyuluhan, maupun memfasilitasi masyarakat agar mereka dapat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula berpartisipasi.

ok34456

Dalam upaya pemberdayaan, terdapat tiga pilar, yaitu :

  1. Pemungkinan (enabling), yaitu upaya kegiatan pemberdayaan yang dilakukan masyarakat yang dimungkinkan membawa dampak positif serta dapat memperbaiki situasi dan kondisi masyarakat itu sendiri.
  2. Penguatan (strengthening), yaitu upaya pemberdayaan dengan menguatkan, meningkatkan, serta memajukan hal yang sudah dimiliki masyarakat, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, kreatifitas, produk, dan lain sebagainya.
  3. Perlindungan (protecting), yaitu upaya pemberdayaan dengan melakukan perlindungan atau penjagaan terhadap suatu hal di masyarakat yang sangat rawan kerusakan atau kepunahan, seperti merawat dan melestarikan alam, budaya, kesenian, dan tradisi.

Ada 4 prinsip dalam pemberdayaan, yaitu Kepemimpinan, Kemitraan, Patungan, Keswadayaan.

Pemberdayaan dapat menciptakan suatu esensi pembangunan, karena semakin baik dari suatu kegiatan pemberdayaan di masyarakat, maka masyarakat akan semakin mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, lebih berdaya menolong dirinya sendiri, semakin berperan dalam memperkuat mobilitas sosial dalam masyarakat, dan semakin berdaya saing dalam tatanan masyarakat ekonomi yang lebih.

 

Sumber gambar :

http://www.ljj-kesehatan.kemkes.go.id

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

 

Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman di Desa Wisata Religi Mlangi

            Wisata religi adalah jenis wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan. Para wisatawan bisa mendapatkan pengalaman spriritual yang bermanfaat agar mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Wisata religi menjadi suatu pilihan yang menarik untuk dijadikan tempat berekreasi dan bisa dijadikan tempat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

            Salah satu tempat wisata religi di Yogyakarta yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan apabila sedang berkunjung ke Jogja adalah Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman di Desa Wisata Religi di Dusun Mlangi.Dusun Mlangi terletak di sebelah Barat laut Kota yogyakarta,  tepatnya di Desa Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pada jaman dahulu, Dusun Mlangi merupakan hadiah atau pemberian Sultan Hamengku Buwono I terhadap kerabatnya yaitu Kyai Nur Iman yang bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo, yang merupakan putra dari RP. Suryo Putro, putra sulung Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I, Kemudian pemberian tersebut oleh Kyai Nur Iman dijadikan tempat pengembangan agama islam. Kemudian mendirikan tempat mengajar bagi para santri, atau dalam bahasa jawa dikatakan mulangi dan akhirnya tersebut Mlangi.

            Di Desa Mlangi ini terdapat sebuah masjid dengan bangunannya yang legendaris yaitu Masjid Jami’ Mlangi, disebut bangunan legendaris karena masjid ini dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an.Masjid ini cukup unik karena memiliki desain arsitektur mirip dengan keraton. Masjid Jami’ Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi, yang terdiri atas bagian ruang utama, serambi masjid, ruang perpustakaan, dan halaman masjid.

Bangunan di masjid ini identik dengan arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada waktu dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pesantren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid. Namun, bentuk bangunan ini sudah banyak mengalami perubahan. Blumbang yang dulu mengelilingi masjid, sekarang sudah tidak ada lagi karena ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

            Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat. Di sini juga terdapat makam Kyai Nur Iman.Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu. Makam itu selalu ramai sepanjang tahun, terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur’an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.

            Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul, yaitu tradisi dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini. Tradisi ini bermula sejak Hamnegkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. Artinya sageto manggul ayahandanipun kyai Nur Iman dalam hajatnya menyebarkan ajaran Islam.

            Letak dari lokasi Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman ini kurang lebih 7 km arah barat laut dari ibu kota provinsi, dan 7 km dari arah utara kabupaten. Akses untuk menuju kesini bila berjalan ke arah utara bisa melewati ring road barat Yogyakarta, dan melaju mengikuti arah jalan beraspal dan akan sampai di Dusun Mlangi, tepatnya di Masjid Jami’ Mlangi.  Untuk menuju ke tempat ini, bisa menggunakan kendaraan pribadi berupa mobil atau motor. Pengunjung tidak dikenakan tiket tarif apapun di tempat ini. Dan pengunjung bisa datang kesini kapanpun karena tidak ada batasan waktu berkunjung.

            Masjid Jami’ dan Makam Kyai Nur Iman ini sangat baik dikunjungi bagi para wisatawan yang mencari destinasi wisata spriritual yang bermanfaat untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, selain itu juga menjadi sebuah wiisata religi untuk dijadikan tempat berekreasi dan tempat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Sumber :

http://jogjatrip.com/id/1363/Mlangi-Islamic-Village

https://gudeg.net/direktori/1184/masjid-pathok-negara-mlangi-yogyakarta.html

https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/pilgrimage-sites/mlangi/

Museum Hamengkubuwono IX, Peninggalan Sang Raja Pembela Kemerdekaan Indonesia

                                (Sumber gambar : http://sketsabudaya.blogspot.co.id/)

            Di keraton Yogyakarta terdapat berbagai museum yang menarik dikunjungi para wisatawan yang sedang berlibur di Daerah Istiewa Yogyakarta, salah satunya adalah Museum Hamengkubuwono IX. Musium ini didirikan pada awal tahun 1990-an dan diresmikan pada tanggal 28 November 1992 oleh Sultan Hamengku Buwono X. Museum ini berada satu komplek dengan keraton Yogyakarta. Museum ini didedikasikan untuk Sultan Hamengkubuwono IX untuk mengenang jasa selama hidupnya.

      Museum Hamengkubuwono berisi koleksi-koleksi peninggalan Sultan Hamengkubuwono IX semasa hidupnya. Disana terdapat berbagai macam barang-barang yang pernah dipakai atau digunakan Sultan Hamengkubuwono IX dan juga berbagai macam penghargaan yang pernah diraihnya. Bukan hanya barang-barang milik Sultan saja yang di pamerkan di museum ini, akan tetapi di museum ini juga terdapat dokumen-dokumen milik raja Yogyakarta kesembilan tersebut.

       Beberapa benda koleksi yang terdapat di Museum Hamengkubuwono antara lain adalah meja tulis, cindera mata, foto, beberapa penghargaan berupa medali, tanda jasa, dan surat keputusan presiden RI. Terdapat pula koleksi mobil-mobilan Sri Sultan Hamengkubuwono IX ketika masih kecil, peralatan memasak, bumbu dapur, baju, dan berbagai benda lainnya. Disana juga terdapat meja kerja, pakaian, dan berbagai benda lain seperti pakaian seragam militer.

            Di museum ini pengunjung dapat melihat kegiatan-kgiatan yang pernah diikuti oleh Sultan Hamengkubuwono semasa hidupnya, yaitu keterlibatan Sri Sultan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, kegiatan Sultan Hamengkubuwono IX di kraton sebagai seorang Sultan Yogyakarta, pejabat negara Republik Indonesia, dan berbagai kegiatan lain seperti Pramuka karena notabene Sultan Hamengkubuwono IX adalah Bapak Pramuka Indonesia, dan juga keseharian sebagai seorang pribadi di mata keluarga, masyarakat, dan teman-temannya.

            Museum ini buka setiap hari kecuali sedang diadakan upacara adat di keraton. Museum ini dibuka pukul 08.30 – 14.00, kecuali hari Jumat hanya buka sampai dengan pukul 13.00. Harga tiket masuk ke Museum Hamengkubuwono IX ini cukup terjangkau, hanya sebesar Rp.5.000, dan akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.1.000 apabila membawa kamera. Akses menuju Museum Hamengkubuwono IX ini sangat mudah karena letaknya yang berada di tengah pusat kota. Pengunjung bisa berkunjung ke museum menggunakan kendaraan pribadi berupa mobil atau motor, atau menggunakan alat transportasi umum di Yogyakarta seperti Trans Jogja, atau taxi.

            Museum ini sangat baik dikunjungi oleh masyarakat karena museum ini bisa digunakan untuk sarana edukasi, yaitu untuk pendidikan, untuk menyampaikan nilai-nilai baik dari Sultan Hamengkubuwono IX yang dikenang dalam museum. Selain itu, pengunjung juga dapat belajar tentang sosok Sultan Hamengku Buwono IX, dimana di museum ini kita dapat melihat bahwa seorang Sultan juga memiliki kebiasaan dan kehidupan seperti manusia biasa, seperti hobi memasak, fotografi, bermain dengan teman-temannya, dan juga berkumpul dengan keluarga.

Sumber : https://dwijayantiw.wordpress.com/2015/08/10/museum-hamengku-buwono-ix-di-kompleks-keraton-ngayogyakarta/

http://sektiadi.staff.ugm.ac.id/2012/05/museum-sri-sultan-sebagai-sumber-inspirasi-dan-semangat/

Museum Wayang Kekayon, Sejuta Pesona Wayang Nusantara

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah suatu provinsi yang memiliki berbagai destinasi wisata budaya, seperti keraton, seni pertunjukan, museum, dan lain-lain. Salah satu museum yang memiliki unsur wisata budaya adalah Museum Wayang Kekayon. Kekayon sendiri berasal dari kata Kayon yang berarti gunungan yang melambangkan alam semesta, pada pertunjukan wayang saat Kekayon ditancapkan berarti kehidupan sudah dimulai. Museum ini didirikan oleh Prof. Soejono Parwirihusodo dengan tujuan agar generasi muda bisa mengetahui dan memahami kebudayaan yang ada di Indonesia sebagai warisan budaya. Pada tahun 1987 selesai dibangun, dan diresmikan pada tanggal 5 Januari 1991 oleh Gubernur DIY yaitu Sri Pakualam VII, dan mulai dibuka untuk umum.

Museum ini sangat cocok dikunjungi oleh para penggemar wayang karena di Museum Wayang Kekayon ini memiliki koleksi lebih dari 5000 wayang, yang terbagi menjadi 25 jenis wayang, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Beberapa koleksi yang ada di Museum Wayang Kekayon antara lain adalah, Wayang Purwa, Wayang Madya, Wayang Gedhog, Seratus Wayang Kurawa, Wayang Klithik, Wayang Dupara, Wayang Krucil, Wayang Kancil, Wayang Suluh, Wayng Golek, Wayang Bali,  Wayang India, Wayang Thailand, aneka topeng, busana wayang, dan masih banyak lagi.

Museum yang memiliki luas 1,1 hektare ini terletak di jalan Yogyakarta – Wonosari km 7, No.277, Baturetno, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Museum ini berada 1 km timur ringroad, dari bandara Adisucipto musium ini berjarak 6 km. Sedangkan dari terminal Giwangan berjarak 5 km. Dan apabila ditempuh dari Stasiun Tugu, Malioboro, atau Keraton Yogyakarta berjarak 10 km. Kendaraan yang bisa digunakan untuk mengunjungi museum ini bisa dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum jurusan Jogja – Wonosari, atau menggunakan taxi, dan lain sebagainya.


Museum Wayang Kekayon ini memiliki unsur arsitektur tradisional Jawa berbentuk Joglo, dengan dilengkapi dengan banyak pepohonan yang rindang. Bangunan Museum Wayang Kekayon ini terbagi menjadi sembilan bagian. Bagian pertama berisikan wayang purwa gaya Yogyakarta. Bagian kedua berisi koleksi wayang purwa gaya Surakarta. Bagian ketiga berisi koleksi wayang madya dan wayang gedhog. Bagian keempat berisi wayang krucul, klitik, dan wayang beber. Bagian kelima berisi koleksi wayang Madura, dupara, kartasura, kidang kencana, wayang kancil, wayang purworejo, dan masih banyak lagi. Bagian keenam berisi koleksi wayang Bali, wayang menak, wayang suluh, golek menak sentolo, dan lain-lain. Selanjutnya bagian ketujuh berisikan wayang golek dan wayang kreasi baru. Bagian kedelapan berisi koleksi topeng dan pagelaran mini, dan yang terakhir bagian kesembilan berisi koleksi wayang kerasul, wayang Thailand, wayang turis, wayang potehi, wayang karton, dan lain-lain.

Di Museum Wayang Kekayon tidak hanya terdapat koleksi wayang saja, akan tetapi juga terdapat sejumlah bangunan dan replika tentang sejarah Indonesia dari zaman purba hingga sampai zaman proklamasi kemerdekaan. Harga tiket Masuk pada Museum Wayang Kekayon ini adalah Rp.7.000 untuk pelajar atau umum. Rp.10.000 untuk turis asing, dan apanila pengunjung membawa kamera maka akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.10.000. buka dari hari Selasa – Minggu pukul 08.30 – 14.00, sedangkan utuk hari Sabtu pukul 08.30 – 12.00 WIB.

Museum ini sangat baik dikunjungi oleh semua kalangan baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa karena museum ini bisa menjadi salah satu tempat untuk mengetahui peninggalan budaya yang ada di Indonesia khususnya mengenai wayang. Tempat ini bisa menjadi sarana edukatif, wahana informasi, penelitian, dan pendidikan.

Salah satu wayang yang paling saya sukai di museum ini adalah wayang Gatotkaca.

(Sumber gambar : http://suakawayang.blogspot.co.id/)

Raden Gatotkaca adalah putera Raden Wrekudara yang kedua. Ibunya seorang putri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgandani. Waktu dilahirkan Gatotkaca berupa raksasa, karena sangat saktinya tidak ada senjata yang dapat memotong tali pusatnya. Kemudian tali pusat itu dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca, dan menambah lagi kesaktiannya. Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian; karena. itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang di awan dan duduk di atas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang di awan bagai kilat dan liar bagai halilintar. Kesaktiannya dalam perang, dapat mencabut leher. musuhnya dengan digunakan pada saat yang penting. Gatotkaca diangkat jadi raja di Pringgadani dan ia disebut kesatria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan. Dalam perang Baratayudha Gatotkaca tewas oleh senjata Kunta yang ditujukan kepada Gatotkaca. Ketika Gatotkaca bersembunyi dalam awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan mengenai kereta kendaraan Karna hingga hancur lebur. Gatotkaca beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Arjuna. (https://wayangku.wordpress.com, 2008)

Sumber : www.jogjatrip.com/id/222/museum-wayang-kekayon

https://wayangku.wordpress.com/2008/10/13/raden-gatotkaca/

Situs Liyangan Temanggung, Peradaban yang Pernah Hilang

Kabupaten Temanggung adalah kabupaten yang memiliki berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, karena Temanggung berada di lokasi geografis yang notabene berada di daerah pegunungan. Namun, ternyata Kabupaten Temanggung tidak hanya memiliki objek wisata alam saja, Kabupaten Temanggung juga memiliki berbagai objek wisata sejarah, salah satunya yang saat ini cukup menjadi perbincangan hangat adalah Situs Liyangan.

                Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, diduga bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu. Situs Liyangan berada di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.

Situs Liyangan ini diperkirakan sudah berdiri sejak zaman mataram kuno. Menurut para ahli hal itu dibuktikan dengan adanya bulir padi purba, kayu yang terbakar menjadi arang, yang diperkirakan semua itu terbakar dikarenakan terkena erupsi dari Gunung Sindoro. Situs Liyangan ini memang berada di lereng Gunung Sindoro. Dari area situs Gunung Sindoro tampak begitu dekat. Sampai saat ini sudah banyak ditemukan banyak peninggalan baru seperti, tembikar zaman Dinasti Cina kuno, Arang bekas kayu pendopo, rumah dan sebagainya, altar, jalan, dan pagar.

Situs Liyangan ini diperkirakan luasnya sampai ke area persawahan warga (saat ini ekskafasi dilakukan dibekas tambang batu dan pasir). Pernyataan itu diperkuat dari pemandangan yang terlihat disana. Didaerah yang berbatasan dengan sawah warga terdapat seperti pondasi dari batu yang disusun masih secara tradisonal. Dari hal itu dimungkinkan diatas persawahan sana masih akan ditemukan penemuan lainnya.Situs Liyangan ini meskipun diperkirakan lebih besar dari Candi Borobudur bila sudah usai diekskafasi. Tempat ini bukanlah suatu candi namun semacam pemukiman warga jaman mataram kuno. Hal itu diperkuat dengan beberapa waktu lalu ditemukan jalan yang disusun dari batu.

Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, diduga bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu. Kemudian terjadi kembali penemuan berupa sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang, profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi menandakan candi ini berasal dari abad 9 Masehi. Yang menjadi misteri dan sangat spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter.

Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman. Balai Arkeologi Yogyakarta memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno, dan bisa kemungkinan pada abad 9 Masehi silam tempat tersebut adalah sebuah desa atau dusun kecil yang menghilang dengan terjadinya proses alam seperti tanah longsong atau gempa bumi lainnya. Sehingga tempat tersebut terpendam lonsorann tanah dan pasir atau lahar yang begitu derasnya.

Situs Liyangan ini sangat cocok bagi wisatawan yang menyukai wisata sejarah dan senang mempelajari ilmu arkeologi. Hal lain yang menarik dari objek wisata Situs Liyangan ini adalah, Situs Liyangan ini terletak di lereng Gunung Sindoro, jadi udara disini sangat sejuk. Pengunjung bisa melihat berbagai persawahan dan perkebunan sayur-sayuran di area sekitar Situs Liyangan. Tidak jauh dari objek Situs Liyangan ini juga terdapat kolam renang dengan air yang berasal dari pegunungan yang sangat dingin dan segar.

Akses untuk menuju objek wisata Situs Liyangan ini bisa ditempuh dengan kendaraan baik mobil atau motor pribadi untuk dapat sampai ke tempat wisata. Belum ada penarikan uang untuk masuk ke Situs Liyangan ini, karena objek wisata ini tergolong masih baru dan masih dalam proses penggalian lebih lanjut. Tetapi walaupunobjek wisata Situs Liyangan ini belum selesai dalam proses penggalian secara menyeluruh, objek wisata ini tetap menakjubkan karena tidak ditemui di tempat lain, dan sangat recommended bagi para wisatawan yang menyukai wisata sejarah untuk datang ke tempat ini.

Sources :

http://www.kompasiana.com/ninoy/situs-liyangan-menikmati-jalan-batu-masa-kerajaan-mataram-kuno_55af6310d07a613c2c5d39da

http://www.kompasiana.com/syaifud_adidharta/misteri-situs-liyangan-bagian-kisah-temanggung-di-masa-lalu_551914b7a33311dd14b65916

Curug Lawe Temanggung, Keindahan Benang Air yang Tersembunyi

Berbicara tentang objek wisata di Kabupaten Temanggung memang tidak ada habisnya. Letak yang berada di daerah pegunungan membuat Kabupaten temanggung memiliki berbagai tempat wisata yang beragam. Mulai dari wisata alami maupun buatan. Wisata alam di Temanggung tidak hanya berupa pegunungan saja, Kabupaten Temanggung juga memiliki objek wisata berupa air terjun atau curug, salah satunya adalah Curug Lawe.

                Curug Lawe terletak di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung. Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Kendal. Warga desa di Desa Muncar ini sangat ramah, mereka akan menyambut dan memperlakukan pengunjung dengan hangat dan sangat baik.Perjalanan menuju lokasi berjarak sekitar 26 km dari Kota Temanggung ke arah utara. Waktu yang diperlukan 1 jam perjalanan lewat jalur Parakan-Ngadirejo. Kondisi jalan menuju kesana sudah beraspal hingga desa. Pengunjung juga bisa melewati jalan tembus dengan mengambil arah ke parakan, setelah sampai desa ngimbrang berjalan ke arah kanan dan akan sampai di pasar kedu. Dari pasar Kedu berjalan lurus saja dan mengikuti jalan utama Kedu – Jumo, setelah melewati jembatan ambilah jalur ke arah kiri dan hanya dalam waktu beberapa menit saja pengunjung sudah sampai di tempat tujuan.

Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi baik mobil atau motor bisa menitipkan kendaraannya di rumah-rumah penduduk terdekat, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi. Dibutuhkan waktu selama kurang lebih satu jam untuk sampai ke bawah, dimana curug Lawe berada. Pengunjung harus berjalan dari atas ke bawah tebing melewati jalan setapak melewati pematang sawah, melewati ladang kopi dan semak-semak. Udara disini sangat sejuk karena disini banyak pepohonan tumbuh di sekitar, jauh dari kesan polusi kendaraan bermotor atau asap pabrik.Pantas jika pengunjung yang sudah sampai di lokasi curug lawe lebih suka berlama-lama dan enggan untuk kembali.Tidak mudah memang untuk mencapai lokasi, tapi semua itu akan terbayarkan dengan keindahan curug Lawe yang mengesankan. Pengunjung pasti akan terkesan dengan keindahan berupa derasnya air yang segar dan jernih jatuh dari ketinggian. Dengan pepohonan yang masih alami yang tumbuh disekitarnya.

Air terjun ini disebut dengan Curug Lawe karena jatuhnya air terjun dari tebing curam ini sangat mengesankan, yaitu terlihat seperti untaian benang “lawe” yang sangat halus dan berwarna putih. Kata Lawe itu sendiri dalam bahasa Jawa berarti benang-benang halus. Disekitar objek wisata terdapat buah khas Gemawang, yaitu Cendul atau buah kepel yang jarang dijumpai di daerah lain. Jika sedang musimnya, wisatawan bisa memetik buah kepel dari pohonnya secara gratis. Buah ini sangat menyegarkan sehingga bisa menghapus para pengunjung. Tidak jauh dari curug lawe terdapat mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit kulit dan juga tulang, karena airnya mengandung belerang. Di kawasan ini, pengunjung juga bisa menikmati wisata belanja sayuran dan buah-buahan, terutama pisang dengan harga yang sangat murah karena langsung dibeli di petani di pasar muncar.

Curug Lawe ini sangat cocok bagi wisatawan yang menyukai petualangan, pengunjung bisa datang ke objek wisata Curug Lawe ini bersama teman, kerabat, keluarga, atau bisa pula datang secara berkelompok. Pengunjung disarankan membawa air minum yang cukup karena perjalanan ke bawah tebing cukup melelahkan dan akan membuat haus. Curug Lawe ini sangat cocok bagi pengunjung yang ingin berefreshing atau melepas penat. Pengunjung pasti akan merasa fresh kembali dengan melihat segarnya air terjun dan udara yang sangat sejuk disini.

Sources :

https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-tengah/curug-lawe—temanggung

http://tani-temanggung.blogspot.co.id/2014/06/curug-lawe-benang-halus-dari-temanggung.html#

http://temanggung.dosen.unimus.ac.id/pariwisata/curug-lawe/#